Rabu, 23 Februari 2011

Blue Wind (My first Short Story)

Blue Wind
by : Choi Mi young

“Sunny, kau harus berjanji satu hal kepadaku.”
“Mmmh..berjanji untuk apa kak ?”
“Kita harus bertemu disini lima tahun lagi dan harus di bangku taman ini. Kau mau berjanji untukku ?”
“Baiklah, kak. Aku berjanji. Kita bertemu lima tahun lagi ditempat ini.”
            Sekilas aku mengingat sebuah percakapan. Ya, itu percakapan terakhir ku dengan kak Siwon sebelum aku ke Indonesia untuk bersekolah. Sebelumnya aku adalah warga negara Korea Selatan dan sampai sekarang aku tetap menjadi warga negara Korea Selatan karena aku ke Indonesia hanya untuk bersekolah, bukan untuk menetap dan tinggal disini selamanya. Sebenarnya, nama asli ku adalah Lee Yeo Sa. Tetapi, entah mengapa sejak aku masih kecil, aku selalu di panggil dengan sebutan “Sunny” dan aku suka sekali dengan panggilan masa kecilku itu. Aku kembali terdiam. Berusaha untuk mengingat-ingat kembali percakapan terakhirku dengan seorang laki-laki yang bernama Choi Siwon yang usianya lebih tua 3 tahun dariku. Astaga! Apa yang aku lakukan disini ?! hanya berdiam diri dan mencoba mengingat kejadian itu kembali ?! sadarlah Sunny! Ini sudah hampir lima tahun! Perjanjian itu harus di tepati. Aku bukan orang yang suka mengingkari janji. Aku harus ke Korea tetapi yang pasti bukan sekarang karena sekarang sudah larut malam dan aku harus tidur atau jika tidak, besok aku akan di hukum di sekolah karena kesiangan.
            Keesokan harinya, sesampainya di sekolah aku langsung di sambut dengan teriakan dari temanku yang berasal dari Korea Selatan juga. Nama temanku itu adalah Park Shin Ye atau biasa di panggil dengan sebutan masa kecilnya juga yakni, Jessica.
“SUNNY! Kau harus dengar! Ini benar-benar berita baik.”
“Aduh, Jess. Kau pagi-pagi begini sudah ribut. Ada apa sih sampai kau berteriak di kupingku ?” kataku sedikit kesal.
“Kita akan mendapatkan libur satu bulan!”
“Benarkah ?” kataku tak percaya.
“Ya, dan mulai bulan depan kita sudah bisa mendapatkan libur istimewa itu.” Aku tersenyum. Ini benar-benar berita baik. Liburan itu akan aku gunakan untuk pulang ke Korea. Aku sudah sangat merindukan mama dan papaku juga kak Siwon. Aku akan tepati janjiku kak. Aku akan pulang.
            Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Libur satu bulan yang sangat di nanti-nantikan semua anak-anak. Banyak anak-anak dari negara lain yang menggunakan liburan ini untuk pulang ke negaranya masing-masing seperti aku dan Jessica. Aku berjalan sambil menarik koperku kearah Jessica yang sudah siap berangkat ke Korea. Dilihat dari mukanya, dia sudah sangat tidak sabar untuk kembali ke Korea begitu pun dengan aku. Sesampainya kami di bandara, kami mengucapkan salam perpisahan ke teman-teman kami yang juga pulang ke negaranya masing-masing. Di dalam pesawat aku hanya berdoa semoga aku dan Jessica bisa sampai di Korea dengan selamat. Setelah pesawat lepas landas, kami mulai sibuk dengan diri kami masing-masing. Jessica sibuk dengan iPodnya sementara aku lebih memilih untuk tidur karena perjalanan ke Korea membutuhkan waktu yang lumayan lama dan membosankan.
Hoaaaaam… tidurku semalam nyenyak sekali. Sudah sampai dimana ya sekarang ? aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuaku dan kak Siwon di Korea. Sepertinya sebentar lagi pesawat akan mendarat. Jessica dan aku sudah bersiap-siap untuk turun. Dua puluh menit kemudian aku sudah di sambut dengan pemandangan yang tidak asing lagi bagiku. Setelah mengambil barang, aku dan Jessica berpamitan karena rumah kami berbeda arah. Aku di Seoul, sementara Jessica di Incheon. Jessica di jemput oleh supirnya sementara aku harus mencari taxi untuk ke Seoul karena tidak ada satupun anggota keluargaku yang aku beritahukan kalau aku akan pulang. Sekarang aku harus cepat-cepat mencari taxi dan pulang ke rumah.
            Di dalam taxi aku hanya terdiam. Ini kota besar tempat aku dilahirkan. Disinilah aku bertemu dengan banyak teman dan kak Siwon salah satunya. Apakah kak Siwon masih mengingat janji yang ia buat lima tahun yang lalu ? aku berharap dia masih ingat dengan janji itu. Sekilas aku melihat poster “SUPER JUNIOR” di salah satu gedung bertuliskan “SM ENTERTAINMENT”.  Diposter itu terdapat foto kak Siwon. Apakah ia salah satu anggota Super Junior ? akan aku tanyakan jika nanti bertemu dengannya. Sekitar dua puluh menit kemudian aku sampai di depan sebuah rumah. Ya ini adalah rumahku. Aku berharap orang tuaku sedang dirumah sekarang. Aku sudah sangat merindukan mereka. Pelan-pelan kubuka pintu pagar, lalu ku ketok pintu rumahku sebanyak tiga kali. Lalu seorang wanita membukakan pintu. Wanita itu adalah mamaku. Aku memeluknya. Menciumnya. Aku sangat merindukannya. Di dalam rumah, aku bertemu dengan papaku. Sama seperti apa yang aku lakukan ke mama tadi, aku memeluknya dan menciumnya. Aku sangat merindukan mereka dan mereka senang sekali aku bisa pulang walaupun cuma sebentar. Mama mengantarku ke kamar dan menyuruhku untuk istirahat. Aku sangat merindukan suasana kamarku. Benar-benar tidak ada yang berubah.
Keesokan harinya, setelah sarapan aku berjalan-jalan keluar. Berharap bisa mengenang masa kecilku di kota ini. Aku melewati sebuah taman dan aku ingat akan janji itu. Aku melihat seseorang duduk di bangku taman itu. Aku menghampirinya dan berharap itu adalah kak Siwon. Tetapi dia bukan kak Siwon. Dia adalah Cho Kyu Hyun. Dia juga anggota Super Junior. Dia disuruh oleh kak Siwon untuk datang ke bangku taman itu setiap hari untuk menungguku. Kyu Hyun bilang, kak Siwon tidak bisa datang karena dia sedang sakit parah dan di rawat di rumah sakit. Ternyata kak Siwon terkena penyakit kanker otak stadium akhir. Aku sangat kaget dan langsung memaksa Kyu Hyun untuk mengantarku ke rumah sakit dimana kak Siwon di rawat. Sesampainya disana, aku berlari menarik tangan Kyu Hyun kearah kamar kak Siwon. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya dan aku melihat kak Siwon berbaring lemah disana. Aku berlari sambil menagis menghampiri kak Siwon dan memeluknya. Dia tersenyum.
“Maafkan aku, Sunny.” Kata kak Siwon dengan suara lemah.
“Jangan! Jangan bicara dulu! Kondisimu masih sangat lemah.” Larangku.
“Sunny, aku merindukanmu selama lima tahun ini. Aku orang yang payah. Aku tidak bisa menepati janji yang aku buat sendiri. Jika ini kesempatan terakhirku, aku mau kau tahu kalau…”
“Jangan! Jangan berkata seperti itu kak! Kau harus sembuh! Aku mau kita bermain bersama seperti lima tahun yang lalu. Jangan tinggalkan aku. Aku yakin, kau pasti sembuh.” Kataku terisak-isak. Tiba-tiba kak Siwon menarik tangan Kyu Hyun.
“Kyu, aku ingin kau menjaga Sunny.  Jaga dia demi aku. Kau adik terbaik yang pernah aku punya di Super Junior. Tolong, bawa semua anggota-anggota Super Junior kesini. Aku merasa waktuku sudah tidak banyak lagi.”
“Tolong jangan berkata seperti itu kak. Kau akan sembuh. Aku akan telepon anggota-anggota yang lain supaya datang kesini.” Kata Kyu terisak sama sepertiku. Lalu ia mengambil Handphone untuk menelepon semua anggota Super Junior.
“Kak aku mohon, kau harus sembuh! Jangan pernah berkata kalau ini kesempatan terakhirmu.” Tangisku semakin kencang.
“Aku tidak ingin pernah mengucapkan selamat tinggal kepadamu, Sunny. Kau kenangan yang sangat indah buatku. Kau seperti Blue Wind. Aku bisa bertahan selama ini karenamu. Terimakasih kau sudah mau hadir di hidupku walaupun hanya sebentar.” Kak Siwon tersenyum. Aku merasa ini seperti senyuman terakhirnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan…
“CHOI SIWON! KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN KAMI!” Teriak semua anggota Super Junior. “KAU HARUS HIDUP! KITA HARUS SELALU BERTIGA BELAS! KAU HARUS SEMBUH!” Teriak kak Sungmin lalu memeluk kak Siwon.
“Hey hey,  aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku akan selalu berada di dekat kalian. Di hati kalian.” Kak Siwon tersenyum. Senyuman itu membuatku semakin histeris. Aku benar-benar tidak menyangka ini akan menjadi pertemuan terakhirku dengan kak Siwon.
“Sunny, aku mohon jangan menangis.” Pinta kak Siwon kepadaku.
“Tidak, aku tidak menangis.” Kataku sambil menyeka air mataku.
“Tersenyumlah untukku,my Blue Wind. Untuk yang terakhir kalinya.” Aku pun berusaha tersenyum walau sebenarnya aku sangat hancur saat itu.
“Terimakasih Sunny. Aku bahagia dengan pertemuan singkat ini. Aku beruntung bisa mengenalmu. dan Kyu, tolong jagalah dia demi aku. Aku mencintai kalian semua. Kalian partner yang hebat dan luar biasa. Aku senang bisa menjadi bagian dari hidup kalian.”
Perlahan-lahan kak Siwon menutup matanya. Tidur untuk selamanya,namun ia tersenyum lega karena sudah bisa menepati janjinya bertemu denganku dan aku pun menangis histeris. Berkali-kali aku mencoba memanggil nama kak Siwon pun tak ada jawabannya. Aku memeluk tubuhnya yang sudah dingin begitupun dengan anggota-anggota Super Junior yang lain. Keesokan harinya, aku bersama Kyu Hyun dan anggota Super Junior yang lain menghadiri upacara pemakaman kak Siwon. Aku sudah berjanji tidak akan menangisi kepergian kak Siwon lagi. Aku harus bersyukur dengan pertemuan yang singkat ini. Selamat jalan, kak Siwon. Semoga kau tenang disana. Aku tidak akan melupakanmu selamanya. Aku sudah memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia dan bersekolah di Korea saja karena aku tidak mau kehilangan dan terpisah dengan orang-orang yang aku sayang lagi untuk kedua kalinya.

-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar